Laual -insan surat ke berapa ?, surah al insan menempati urutan ke 76 dalam mushaf Al Quran. Asbabun nuzul penamaan surat Al Insan didasarkan dari bunyi ayat pertama dari surat ini. Selain dikenal dengan nama Al Insan, surat ini memiliki 2 nama lainnya. Diantaranya adalah sebagai berikut : Surat Ad Dahr artinya "masa". Surat Hal Ata.
Latindan Terjemahan Surat Al A'raf Ayat 86 وَلَا تَقْعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَٱنظُرُوا۟
TafsirSurat Al Baqarah Ayat 106, 107,108,109, 110, 111, 112, Dan 113. Ayat 106-108: Membicarakan tentang naskh dalam Al Qur'an dan bahwa menaskh merupakan urusan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, demikian juga menyebutkan bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ
JualBuku Asbabun Nuzul - Imam As Suyuthi - Penerbit Insan Kamil. Wisata Buku Islam. Menjelajah Dunia Ilmu WA: 0857 2510 6570. Beranda; Buku Islam; Biografi Penulis; SURAT AL-MURSALAT 669 Surat Al-Mursalat [77]: Ayat 48 669. SURAT AN-NABA' 670 Surat An-Naba' [78]: Ayat 1-2 670. SURAT AN-NAZI'AT 671
. * The preview only display some random pages of manuals. You can download full content via the form below. Surah Al-Mursalat Bahasa Arab ت سورة المرسلialah surah ke-77 dalam al-Quran. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 50 ayat. Dinamakan Al Mursalaat yang berarti "malaikat-malaikat yang diutus" diambil dari kata Al Mursalaat yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Isi kandungan Penegasan Allah bahwa semua yang diancamkan-Nya pasti terjadi Peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum hari berbangkit Peringatan Allah akan kehancuran umat-umat yang dahulu yang mendustakan nabi-nabi dan asal kejadian manusia dari air yang hina Keadaan orang-orang kafir dan orang mukmin di hari kiamat Asbabun Nuzul Surah Al-Mursalaat 5 Jan asbabun nuzul surah alqur’an Senin, 07 Februari 2011 Tafsir Surat Al-Mursalat ayat 25-28 بسم ال الرحمن الرحيم ت نوأنلسنقل َنيننامك م ممم مفنراتا * نوليلل نيلونمئٍذّذ للللمم ن ذض ئكنفاتا * أنلحن َنيمام نوأنلمواتا * نونجنعللننا ئف َنينها نرنوائسني نشائمنخاٍذ كّذذ َنينن * أننلل م نلجنعئل اللر ن 25. Bukankah Kami menjadikan bumi tempat berkumpul? 26. Orang-orang hidup dan orang-orang mati? 27. Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan beri Kami minum kamu dengan air tawar? 28. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Tafsir lughawi Banyak ulama yang memberi makna lafadz ئكنفاتااsama dengan جامعة/ ضامةyang berarti yang mengumpulkan. Atau bermakna الوعامyakni wadah. Maksudnya, bumi adalah wadah atau tempat berkumpulnya orang-orang hidup dan mati. orang yang hidup berjalan di atasnya sedang yang mati terkubur di dalammnya, sebagaimana yang dikatakan Qatadah, al-Syu’bi, al-Mahalli dan muffassir lain. Zamakhsyari mengatakan bahwa tidak hanya sebatas manusia yang hidup dan mati saja. Karena lafadz أنلحن َنيمام نوأنلمواتااberupa ism nakiroh sehingga maknanya pun umum. Senada dengan apa yang dikutip al-Mawardi dari salah satu qaulnya Mujahid, ayat tersebut bisa juga berarti tumbuhtumbuhan dan bangkai-bangkai lainnya. ت نرنوائسني نشائمنخاٍذpara mufasir sepakat memberinya makna gunung yang tinggi. Zamakhsyari berkata penggunaan ism nakiroh pada ت نرنوائسني نشائمنخاٍذdan ممم مفنراتاberfaedah tab’idh menyebutkan sebagiannya saja. Karena di langit terdapat gunung-gunung -sebagaimana disebutkan surat al-Nur 24 43- dan air tawar pula. Dalam segi hukum, berdasarkan ayat ini para ulama beristimbath bahwa hukum menguburkan mayit adalah wajib. Ulama Syafi’iyah juga mendasarkan ayat ini sebagai dalil potong tangan bagi pencuri kain kafan mayit yang sudah dikubur. Tafsir Ijmali Setelah memperingatkan dan menakut-nakuti orang kafir dengan keadaan kiamat, menyiksa mereka sebagaimana umat-umat pendusta yang terdahulu, dalam ayat ini Allah memperlihatkan contoh kenikmatan-kenikmatan yang telah Dia curahkan kepada mereka tapi mereka mengingkari dan mendustakannya. Allah mengingatkan betapa banyaknya Allah melimpahkan anugrah-Nya, namun kenapa juga mereka masih mendustakan keberadaan-Nya? Senin, 07 Februari 2011 Tafsir Surat Al-Mursalat ayat 46-50 48. dan apabila dikatakan kepada mereka “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’*. Al-Mursalaat 48 * Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan rukuk di sini ialah tunduk kepada perintah Allah; sebagian yang lainnya mengatakan, Maksudnya ialah shalat. Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Mujahid bahwa Firman Allah, wa idzaa qiila lahumurka’uu laa yarka’uun dan apabila dikatakan kepada mereka “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’ Al-Mursalaat 48 turun berkenaan dengan suku Tsaqif yang tidak mau rukuk shalat. Sumber Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk Tagal mursalaat, al mursalat, Al-qur'an, Asbabun nuzul, bahasa indonesia, hadits, islam, religion, riwayat, surah, surat, tafsir. ل نيلرنكمعونن * نوليلل نيلونمئٍذّذ للللمم ن ذ ل ذإئنكل م لملجئرممونن * نوليلل نيلونمئٍذّذ للللمم ن ذ * مكملولا نونتنمنّتعولا نقئل َني ا كّذذ َنينن * نوذإنذا ئق َنينل نلمهم م الرنكمعولا ن كّذذ َنينن * نفئبنأذي نحئديٍذث نذلعندمه ميلؤئممنونن 46. Dikatakan kepada orang-orang kafir "Makanlah dan bersenang-senanglah kamu di dunia dalam waktu yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa." 47. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 48. Dan apabila dikatakan kepada mereka "Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku' 49. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 50. Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman? مكملولا نونتنمنّتعولا نقئل َني ا ل ذإئنكل م لملجئرممونن Makan dan bersenang-senanglah, tapi sedikit saja. Menurut Zamakhsyari dalam ayat ini Allah bermaksud menghina para pendusta itu. Amr perintah dalam ayat ini bukan berfaedah tahdid menggertak. Perintah ini lebih cocok berfaedah tahsiir dan takhsiir celaan, ejekan/ penghinaan. Karena perintah tersebut jatuh setelah Allah memamerkan keadaan orang-orang muttaqiin yang berlimpah nikmat. Karena mereka merasa terhina tak satupun dari para pendusta itu yang melaksanakan perintah tersebut. Bisa juga kalimat ayat ini menjadi kalam isti’naf kalimat baru yang terpisah dari khithob tujuan pembicaraan/ kata ganti orang kedua sebelumnya. Menurut yang menganut madzhab ini seperti Abu Hayyan dan Jalauddin al-Mahalli, khitob kallimat ditujukan kepada para pendusta di dunia. Jika demikian maka faedah amr dalam ayat ini boleh sebagai tahdid gertakan untuk para pendusta di alam dunia. Jika pada pendapat yang pertama tidak berlaku faedah tahdid adalah karena khitob-nya kepada para pendusta di akhirat dimana faedah tahdid ini tidak cocok untuk susunan dan tujuan kalimatnya. Makan dan bersenang-senanglah sebentar saja di dunia, setelah itu rasakanlah adzab yang pedih selama-lamanya di akhirat. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. نوذإنذا ئق َنينل لنمهم م الرنكمعولا ن ل نيلرنكمعونن Ketika mereka diperintah untuk ruku’, tunduk, merendahkan diri di hadapan Allah azza wa jalla -dengan menerima kebenaran wahyu-Nya, mengikuti agama-Nya, dan meninggalkan kesombongan dan kecongkakan- mereka tak mau. Mereka bersikukuh untuk tetap sombong dan congkak. Wahbah Zuhaili menerangkan dalam tafsirnya bahwa dalam ilmu balaghah, ayat ini termasuk majaz mursal. Yang disebutkan secara sharih jelas rukuk tapi yang dimaksud adalah shalat. Ayat ini termasuk contoh dari ithlaqi al-juz wa iradati al-kull menyebutkan suatu bagian dari apa yang sebenarnya dimaksudkan. Muqatil mengatakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum Tsaqif. Mereka berkata kepada Rasulullah SAW “kami meninggalkan shalat, kami tidak mau jungkir balik -jengkang-jengking- bhs jawa- rukuk sujud - sujud rukuk, karena itu hanya menjadi bahan umpatan dan olok-olok bagi kami.” Maka Rasul bersabda “tidak ada kebaikan dalam menjalankan agama yang di dalamnya tidak ada rukuk dan sujud. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Thabrani. Menurut Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip al-Alusi dalam tafsir al-Munir, perintah itu ditujukan pula pada para pendusta di hari kiamat. Amr-nya berfaedah lil wujuub keharusan. Mereka disuruh harus rukuk dan sujud, namun mereka tak mampu karena sebelumnya mereka tak pernah melakukan sujud dan rukuk sewaktu di dunia. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Mendustakan dan tak mau tunduk ketika diperintahkan untuk tunduk. نفئبنأذي نحئديٍذث نذلعندمه ميلؤئممنونن Para mufassir sepakat bahwa maksud lafadz “ ”نحئديٍذثdisini adalah al-qur’an. Penggunaan lafadz ba’da setelah, menurut al-Alusi menunjukkan keterpautan tingkatan al-qur’an atas kitab-kitab lainnya. Tidak ada perkataan atau berita yang lebih berhak dipercayai mengalahkan al-qur’an. Kata yu’minun beriman/ percaya juga ditafsiri yushaddiquun membenarkan. Surat ini ditutup dengan ayat yang mengungkapkan ekspresi keheranan atas para pendusta itu. Bisa-bisanya mereka tak mempercayai membenarkan al-qur’an yang benar-benar telah terbukti kebenaran hujjah-nya. Kalau tidak kepada al-qur’an kepada perkataan berita apa lagi sesudahnya yang akan mereka percayai dan benarkan? Tafsir ijmali Pada kelompok terakhir dari rangkaian ayat-ayat dalam surat al-mursalat ini Allah seakan-akan membiarkan para pendusta sejenak bersenang-senang sebentar di alam dunia. Namun setelah itu Dia akan menyiksa mereka selamalamanya di akhirat. Karena ketika diperintahkan untuk tunduk dengan menerima kebenaran wahyu, mereka enggan dan sombong. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Kemudian surat ini ditutup dengan ayat yang mengekspresikan keheranan atas pendustaan mereka terhadap berita-berita al-qur’an yang sudah terbukti kebenarannya. Lalu kepada perkataan berita apalagi setelah al-qur’an yang akan mereka percayai?
Surat Al Mursalat ayat 1-10. Sumber Surat Al Mursalat Ayat 1-10 Arab, Latin, dan ArtinyaSurat Al Mursalat ayat 1-10. Sumber عُرْفًاwal-mursalāti 'urfāArtinya, "Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan,"فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفًاfal-'āṣifāti 'aṣfāArtinya, "dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya,"فَالْفَارِقَاتِ فَرْقًاfal-fāriqāti farqāArtinya, “dan malaikat-malaikat yang membedakan antara yang baik dan yang buruk dengan sejelas-jelasnya,”فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًاfal-mulqiyāti żikrāArtinya, “dan malaikat-malaikat yang menyampaikan wahyu,”عُذْرًا أَوْ نُذْرًا'użran au nużrāArtinya, “untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan.”إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَوَاقِعٌinnamā tụ'adụna lawāqi'Artinya, “Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.”فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْfa iżan-nujụmu ṭumisatArtinya, “Maka apabila bintang-bintang dihapuskan.”وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْwa izas-samaa’u furijatArtinya, “dan apabila langit terbelah,”وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْwa izal-jibaalu nusifatArtinya, “dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu.”
Jakarta - Surat Al Mursalat, seperti yang dikutip dari Tafsir Al Lubab Jilid 4 oleh M Quraish Shihab, merupakan surat ke 77 dalam Al-Quran yang terdiri dari 50 ayat. Surat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah, yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Bahkan surat ini menjadi salah satu surat yang diterima Nabi di masa-masa awal buku M Quraish Shihab, tema dari surat ini sama halnya dengan surat dalam Al-Quran yang turun sebelum hijrahnya Nabi, yakni tentang keniscayaan kiamat serta bukti kekuasaan Allah SWT dalam membangkitkan manusia serta ancaman bagi mereka yang tujuan dari diturunkannya surat Al Mursalat ini adalah untuk menjelaskan tentang akhir perjalanan hidup di bumi ini dengan memberikan ganjaran bagi mereka yang bersyukur yaitu memberikan surga, dan pembalasan bagi yang kafir yaitu azab neraka. Agar mereka senantiasa menyiapkan bekal menghadapi saat tersebut. Asbabun NuzulBerdasarkan yang ditulis oleh Imam As-Suyuthi dalam bukunya Asbabun Nuzul, Al-Qurthubi mengatakan bahwa surat Al Mursalat diturunkan di kota Mekkah. Namun Ibnu Abbas dan Qatadah menambahi, kecuali satu ayat turun di Madinah yaitu pada ayat 48وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ ارْكَعُوْا لَا يَرْكَعُوْنَArtinya "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Rukuklah," mereka tidak mau rukuk."Ayat tersebut turun berkenaan dengan kabilah Tsaqif yang enggan melaksanakan shalat. Maka turunlah ayat yang berkenaan dengan mereka itu. Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksudnya adalah orang-orang Tsaqif, seperti yang ditulis dalam buku Strategi Hijrah Prinsip-Prinsip dan Ilmiah Tuhan oleh Ahmad Abdul Azhim Muhammad adalah musuh bebuyutan kaum Quraisy dalam persoalan agama dan karena itu, kabilah Tsaqif memanfaatkan Islam agar dapat unggul atas kaum Quraisy. Kabilah Tsaqif memiliki berhala yang dinamainya Lata. Kaum mereka bahkan mendirikan tempat suci yang serupa Ka'bah dan menyeru manusia untuk berhaji ke surat Al MursalatBerikut adalah keutamaan surat Al Mursalat, yang dikutip dari buku Keutamaan Al Quran dalam Perspektif Hadits oleh Ahsantudhonni, adalah termasuk dalam surat an-nazhair yang selalu dibaca nabi saat sholat ini berdasarkan Riwayat dari Abdullah bin Abbas RA bahwa Abu Bakar As-Shiddiq berkata "Saya bertanya kepada Nabi SAW 'Apakah yang menyebabkan engkau beruban ya Rasulullah?' kemudian beliau menjawab 'Surat Hud, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mursalat, Surat An-Naba, dan At-Takwir." HR. At-TirmidziSimak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] lus/lus
Tafsir Surat Al-Mursalaat Malaikat yang Diutus Surat Makkiyyah Surat Ke-77 50 Ayat Turunnya Surat Al-Mursalat Dan Membacanya Dalam Shalat Maghrib Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah di sebuah gua di Mina tiba-tiba turun surat al-Mursalaat kepada beliau. Beliau membacanya dan saya mendengarkannya dari mulut beliau. Mulut beliau basah ketika membacanya. Tiba-tiba seekor ular menyerang kami, maka beliau pun bersabda اُقْتُلُوْهَا Bunuhlah ular itu’. Kami pun segera bangkit untuk membunuhnya, tetapi ular itu pergi, maka beliau bersabda وُقِيَتْ شَرَّكُمْ كَمَا وُقِيْتُمْ شَرَّهَا “Ia telah dilindungi dari keburukan kalian sebagaimana kalian terlindungi dari keburukannya.” Dikeluarkan juga oleh Muslim melalui jalur al-A’masy Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbass Radiyallahu anhuma dari ibunya bahwa dia telah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membaca surat al-Mursalaat di shalat Maghrib. Dalam riwayat Malik dari Ibnu Abbas bahwa Ummul Fadhl mendengarnya membaca surat al-Mursalaat, maka dia berkata, “Wahai anakku, bacaanmu itu mengingatkanku bahwa itulah surat terakhir yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika sedang shalat Maghrib.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui jalur Malik. بِسْمِ اللهِ الَرْحَمنِ الَرحِيمِ Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Al-Mursalaat, Ayat 1-15 وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًا، فَالْعٰصِفٰتِ عَصْفًا، وَّالنّٰشِرٰتِ نَشْرًا، فَالْفٰرِقٰتِ فَرْقًا، فَالْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًا، عُذْرًا اَوْ نُذْرًا، اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَوَاقِعٌ، فَاِذَا النُّجُوْمُ طُمِسَتْ، وَاِذَا السَّمَاۤءُ فُرِجَتْ، وَاِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ، وَاِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتْ، لِاَيِّ يَوْمٍ اُجِّلَتْ، لِيَوْمِ الْفَصْلِ، وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِ، وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ “Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan 1 dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya 2 dan malaikat-malaikat yang menyebarkan rahmat Allah dengan seluas-luasnya 3 dan malaikat-malaikat yang membedakan antara yang baik dan yang buruk dengan sejelas-jelasnya 4 dan malaikat-malaikat yang menyampaikan wahyu 5 untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan 6 Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi 7 Maka apabila bintang-bintang dihapuskan 8 dan apabila langit terbelah 9 dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu 10 dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya 11 Niscaya dikatakan kepada mereka, “Sampai hari apakah ditangguhkan azab orang-orang kafir itu?” 12 Sampai hari keputusan 13 Dan tahukah kamu apakah hari ke-putusan itu? 14 Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.” 15 Sumpah Allah Dengan Makhluk-Makh- Luk-Nya Atas Terjadinya Hari Kiamat Ibnu Abi Hatim berkata dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu, “Firman- Nya, { وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًا }, Demi yang diutus untuk membawa kebaikan,’ yakni para Malaikat.” Demikian pula yang diriwayatkan dari Masruq, Abudh Dhuha, Mujahid, as-Suddi dan ar-Rabi’ bin Anas. Diriwayatkan dari Abu Shalih, ia berkata, “Yakni para utus- an.” Dalam riwayat lain darinya, “Yakni Malaikat.” Demikian pula pendapat Abu Shalih tentang al-Aashifaat, al-Naasyiraat, al-Faariqaat dan al-Mulqiyaat, bahwa mereka adalah Malaikat. Ats-Tsauri berkata dari Salamah bin Kuhail dari Muslim al-Bathin dari Abul Ubaidain, dia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang {الْمُرْسَلٰتِ عُرْفًا} maka dia menjawab, “Yakni angin.” Demikian pula pendapatnya tentang al-Aashifaati ashfaa dan al-Naasyiraati nasyraa, bahwa itu adalah angin.’ Demikian pula pendapat Ibnu Abbas , Mujahid dan Qatadah.” Ibnu Jarir berpendapat bahwa al-Aashifaati ashfaa adalah angin, sebagaimana pendapat Ibnu Mas’ud beserta para pengikutnya, namun dia tidak memastikan tentang an-Naasyiraati nasyraa, apakah Malaikat ataukah angin. Dari Abu Shalih, bahwa an-Naasyiraati nasyra adalah hujan. Adapun yang lebih jelas, maknanya adalah angin, sebagaimana firman-Nya, { وَاَرْسَلْنَا الرِّيٰحَ لَوَاقِحَ } “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan tumbuh-tumbuhan.” QS. Al-Hijr 22 [Di sini Allah Subhanallahu wa ta’ala menggunakan kalimat arsalnaa Kami mengutus, maka tepat apabila angin yang diutus-Nya dinamakan al-mursalaat] Dan sebagaimana pula firman Allah , { وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ } “Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya hujan.”QS. Al-Furqaan 48 [Di sini pun Allah Subhanallahu wa ta’ala menggunakan kalimat yursilu Dia mengutus maka secara bahasa tepat sekali apabila angin yang diutus-Nya dinamakan al-mursalaat] Oleh karena itu, maka al-Aashifaat pun adalah angin. Dikatakan, ashafatir riyaah, artinya angin yang berhembus kencang hingga bersuara. Demikian pula an-naasyiraat, yakni angin yang menyebarkan awan di langit, sebagaimana yang Allah Subhanallahu wa ta’ala kehendaki. Firman-Nya, {فَالْفٰرِقٰتِ فَرْقًا فَالْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًا عُذْرًا اَوْ نُذْرًا} “Dan yang membedakan antara yang baq dan yang bathil dengan sejelas-jelasnya, dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan,”yakni Malaikat. Demikianlah pendapat Ibnu Mas’ud Ibnu Abbass, Masruq, Mujahid, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, as-Suddi dan ats-Tsauri.” Tidak ada perbedaan pendapat di sini, karena para Malaikat itulah yang diperintahkan untuk turun kepada para Rasul dalam rangka membedakan antara yang benar dan yang salah, antara petunjuk dan kesesatan, dan antara yang halal dan yang haram. Mereka Malaikat juga menyampaikan wahyu kepada para Rasul yang berisi peringatan kepada para makhluk atas hukuman Allah apabila mereka durhaka kepada-Nya. Firman-Nya, {اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَوَاقِعٌ} “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi. ” Ini adalah isi sumpah al-muqsam alaih. Artinya, apa yang telah Aku janjikan kepada kalian, yakni hari Kiamat -termasuk di dalamnya peniupan Sangkakala, pembangkitan jasad, pengumpulan seluruh manusia dari awal hingga akhir dalam satu tempat, dan pembalasan kepada setiap pelaku sesuai dengan perbuatannya jika amalnya baik, maka balasannya baik, dan jika amalnya buruk maka balasannya pun buruk,- semua itu pasti terjadi dan terwujud, tidak bisa tidak. Hal-Hal Yang Terjadi Pada Hari Kiamat Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman, {فَاِذَا النُّجُوْمُ طُمِسَتْ} “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan, “yakni cahayanya hilang, seperti firman-Nya, {وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ} “Dan apabila bintang-bintang berjatuhan,” QS. At-Takwiir 2 dan {وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ} “Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” QS. Al-Infithaar 2 Firman-Nya, {وَاِذَا السَّمَاۤءُ فُرِجَتْ} “Dan apabila langit telah dibelah, yakni terbelah, terpecah, pilar-pilarnya runtuh dan bagian-bagiannya berjatuhan. Firman-Nya, {وَاِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ} “Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu,” yakni hilang tanpa bekas, seperti firman-Nya, {وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا لَّا تَرٰى فِيْهَا عِوَجًا وَّلَآ اَمْتًا} “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka kata- kanlah Rabb-ku akan menghancurkanmya di hari Kiamat sehancur- hancurnya, maka Dia akan menjadikan bekas gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” QS. Thaahaa 105-107 Dan {وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْاَرْضَ بَارِزَةًۙ وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًا} “Dan ingatlah akan hari yang ketika itu Kami perjalankan gunung- gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” QS. Al-Kahfi 47 Mengenai firman-Nya, {وَاِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتْ} “Dan apabila Rasul-Rasul telah ditetapkan waktu mereka,” Al-Aufi berkata dari Ibnu Abbas Radiyallahu anhuma, “Yakni waktu para Rasul itu dikumpulkan.” Ibnu Zaid berkata, “Ayat ini seperti firman-Nya, {يَوْمَ يَجْمَعُ اللّٰهُ الرُّسُلَ} Ingatlah, hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul.’ QS. Al-Maa-idah 109” Mujahid berkata, “Maksudnya yakni ditangguhkan.” Ats-Tsauri berkata dari Manshur dari lbrahim, “Maksudnya yakni dijanjikan.” Seolah-olah dia menjadikannya seperti firman-Nya, وَاَشْرَقَتِ الْاَرْضُ بِنُوْرِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتٰبُ وَجِايْۤءَ بِالنَّبِيّٖنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ “Dan terang benderanglah bumi padang mahsyar dengan cahaya keadilan Rabb-nya, dan diberikanlah buku perhitungan perbuatan masing-masing dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.” QS. Az-Zumar 69 Kemudian Allah berfirman, {لِاَيِّ يَوْمٍ اُجِّلَتْ لِيَوْمِ الْفَصْلِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِ وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ} “Niscaya dikatakan kepada mereka Sampai hari apakah ditangguhkan mengadzab orang-orang kafir itu?’ Sampai bari keputusan. Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itus Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wa ta’ala ingin menyatakan mengapa perkara para Rasul itu ditangguhkan, ditunda dan diundurkan hingga hari Kiamat. Ayat ini sebagaimana firman-Nya, فَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ مُخْلِفَ وَعْدِهٖ رُسُلَهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ “Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah akan menyalahi janji-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya, sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. Yaitu pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke ha- dirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” QS. Ibrahim 47-48 Itulah hari keputusan yang dimaksudkan dalam firman-Nya, {لِيَوْمِ الْفَصْلِ} “Sampai hari Keputusan.” Kemudian Allah Subhanallahu wa ta’ala mengagungkan hari itu dengan firman- Nya, {وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِ وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ} “Dan tahukah kamu apakah hari Keputusan itu? Kećelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang- orang yang mendustakan,”yakni kecelakaanlah bagi mereka yang mendapatkan siksaan Allah pada hari Kiamat. Disalin ulang dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan ke-sembilan Muharram 1435 H – November 2013 M, Pustaka Ibnu Umar Jakarta
asbabun nuzul surat al mursalat